Makalah Pahlawan Nasional KH.WAHID HASYIM - MEDSOS

STAY WITH US

Hot

Post Top Ad

8.11.13

Makalah Pahlawan Nasional KH.WAHID HASYIM

Akhirnya setelah berdiskusi dengan para tokoh agama di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, dan Teuku Muh Hasan, ditetapkanlah bunyi poin pertama Piagam Jakarta yang selanjutnya disebut Pancasila itu dengan bunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Kutipan diatas adalah salah satu jasa KH. Wahid Hasyim. Berikut makalah lengkapnya.


MAKALAH SEJARAH INDONESIA

TOKOH PAHLAWAN NASIONAL: KH. WAHID HASYIM

Oleh

SMA NEGERI 1 MALANG

Jalan Tugu Utara No.1 Kota Malang, Jawa Timur

No. Telp. 0341-366454

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah sejarah Indonesia tentang tokoh pahlawan nasional: KH. Wahid Hasyim

Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah kami dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   

                                                                                      Malang, Januari 2017   

                                                  
 Penyusun


BAB I


A.      Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang mayoritas rakyatnya menganut agama islam. Namun, dalam catatan sejarah, ada seorang tokoh islam yang sangat bijaksana dan mampu menjadi penengah dalam konflik sila pertama pancasila.

Beliau mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan solusi yang adil dan dapat diterima oleh semua pihak. Beliau adalah KH. Wahid Hasyim.

Selain itu beliau juga tergabung dalam beberapa organisasi penting seperti MIAI, BPUPKI dan PPKI. Beliau ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sejak masih muda.

Tidak hanya itu, beliau juga ikut berjuang mengisi pemerintahan indonesia setelah kemerdekaan berhasil diraih. Beliau menduduki kursi politik sebagai Menteri Urusan Agama pertama Indonesia.
Merujuk pada pemaparan diatas, kami mengangkat Tokoh Pahlawan Nasional: KH. Wahid Hasyim sebagai judul makalah kami.

B.       Rumusan Masalah

1.        Bagaimana latar belakang kehidupan kiai haji hasyim asyari?
2.        Apa saja peranan kiai haji hasyim asyari dalam perjuangan indonesia?

C.       Tujuan

1.        Memenuhi tugas mata pelajaran sejarah indonesia
2.        Mengetahui sejarah kehidupan tokoh pahlawan nasional: KH. Wahid Hasyim
3.        Mengetahui peranan tokoh pahlawan nasional: KH. Wahid Hasyim
4.        Dapat memahami perjuangan tokoh tokoh pahlawan nasional
5.        Dapat meneladani sifat dan pola pikir tokoh pahlawan nasional



BAB II

A.      Biografi tokoh
   
Nama                    : Abdul Wahid Hasjim
Lahir                     : Jombang, Jawa Timur, tanggal 1 Juni 1914
Meninggal            : Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953
Nama ayah           : Hasyim Asyari
Nama Ibu : Nafiqoh
Istri                                   : Sholichah Munawaroh binti KH. Bisri Sansuri
Anak                    :
1.      K.H. Abdurrahman Wahid
2.      Aisyah Hamid Baidlowi
3.      K.H. Salahuddin Wahid
4.      dr. Umar Wahid, Sp.P
5.      Lily Chodijah Wahid
6.      Hasyim Wahid
Agama                  : islam
Jabatan politik
Posisi baru
Menteri Negara Urusan Agama Indonesia
1945
Diteruskan oleh:
Rasjidi
Didahului oleh:
Masjkur
Menteri Agama Indonesia
1949–1952
Diteruskan oleh:
Fakih Usman
(Wikipedia, 2017)


Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid lahir pada hari jumat legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H bertepatan dengan 1 juni 1914 di Desa Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Oleh ayahnya Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ari beliau diberi nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama neneknya.

Karena di anggap nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya di ganti Abdul Wahid, pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan nama Mudin. Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di Jawa.


Ibunya bernama Nafiqah putri K.H. Ilyas pemimpin pesantren Sewulan di madiun. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada Lembu Peteng ( Brawijaya VI ), yaitu dari pihak ayah melalui Joko Tingkir ( Sultan Pajang 1569-1587 ) dan dari pihak ibu melalui Kiai Ageng Tarub I.

Sejak usia 5 tahun ia belajar membaca Al Quran pada ayahnya setiap selesai sholat magrib dan dhuhur, sedang pada pagi hari ia belajar di Madrasah Slafiyah di dekat rumahnya. Dalam usia 7 tahun ia mulai mempelajari kitab Fath Al-Qarib ( kemenangan bagi yang dekat ) dan al-Minhaj al-Qawim ( jalan yang lurus ).

Sejak kecil minat membacanya sangat tinggi, berbagai macam kitab di telaahnya. Ia sangat menggemari buku-buku kesusastraan Arab, khususnya buku Diwan asy-Syu’ara’ ( Kumpulan penyair dengan syair-syairnya ).


Ketika berusia 12 tahun Wahid Hasyim telah menamatkan studinya di Madrasah Salafiyah Tebuireng, lalu beliau belajar ke pondok Siwalan Panji, Sidoarjo, di pondok Kyai Hasyim bekas mertua ayahnya. Di sana ia belajar kitab-kitab Bidayah, Sullamut Taufik, Taqrib dan Tafsir Jalalain.

Gurunya Kyai Hasyim sendiri dan Kyai Chozin Panji, namun ia hanya belajar dalam hitungan hari yaitu selama 25 hari tidak sebagaimana umumnya santri. Pengembaraan intelektual pesantrennya dilanjutkan di Pesantren Lirboyo, kediri, namun juga untuk beberapa .

Setelah itu ia tidak meneruskan pengembaraannya ke pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah dan belajar secara otodidak dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di dukung oleh tingkat kecerdasannya yang tinggi serta tingkat hafalannya yang kuat , dalam belajar ia tidak mengalami kesulitan.

B.       Kepribadian Wahid Hasyim

Sejak kecil ia terkenal sebagai seorang anak yang pendiam, peramah dan pandai mengambil hati orang. Dikenal banyak orang sebagai orang yang gemar menolong kawan, suka bergaul dengan tidak memandang bangsa, atau memilih agama, pangkat dan uang. Terlalu percaya pada kawan, suka berkorban, akan tetapi mudah tersinggung perasaannya dan mudah marah, akan tetapi dapat mengatasi kemarahannya.

Wahid Hasyim hidup dalam lingkungan pesantren yang tentu sangat relegius yang membentuk kepribadiannya dalam cara bergaul, beorganisasi, mendidik menjadi seorang pemimpin dan bahkan menjadi seorang negarawan.

Kepribadian Wahid Hasyim adalah kepribadian lintas batas, artinya tidak sekedar di bentuk dari pergesekan,, dialektikanya dengan komunitas pesantren dan NU, tapi dengan berbagai komunitas seperti dengan organisasi pergerakan Islam, partai politik dan juga birokrasi pemerintahan ketika beliau menjabat sebagai Mentri Agama.
                                 

C.       Pemikiran K.H. A. Wahid Hasyim

1.        Menyelesaikan konflik sila ketuhanan

Seperti diketahui bahwa Tim 9 (sembilan) perumus dasar negara yang terdiri dari Soekarno, Muh. Hatta, A.A. Maramis, KH A Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo dan Muh. Yamin, merumuskan salah satu bunyi Piagam Jakarta yaitu: “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Sebelum Pembukaan/Muqaddimah (Preambule) disahkan, pada tanggal 17 Agustus 1945 Mohammad Hatta mengutarakan aspirasi dari rakyat Indonesia bagian Timur yang mengancam memisahkan diri dari Indonesia jika poin “Ketuhanan” tidak diubah esensinya.

Akhirnya setelah berdiskusi dengan para tokoh agama di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, dan Teuku Muh Hasan, ditetapkanlah bunyi poin pertama Piagam Jakarta yang selanjutnya disebut Pancasila itu dengan bunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Tokoh ulama yang berperan menegaskan konsep Ketuhanan yang akomodatif itu adalah KH Wahid Hasyim, ulama muda NU putra KH Hasyim Asy’ari yang juga tak lain ayah Gus Dur. Menurut Gus Wahid saat itu, “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak konsep tersebut dalam Pancasila.

Artinya, dengan konsep tersebut, umat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama artinya mempraktikan Syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak ada sikap intoleransi kehidupan berbangsa atas nama suku, agama, dan lain-lain.

Pancasila yang akomodatif dalam konteks sila Ketuhanan tersebut mewujudkan tatanan negara yang unik dalam aspek hubungan agama dan negara. Dalam arti, negara Indonesia bukanlah negara sekuler dan bukan pula negara Islam, melainkan negara yang berupaya mengembangkan kehidupan beragama dan keagamaan (Einar Martahan Sitompul, 2010: 91).

2.        Prinsip-prinsip pendidikan.

Pemikiran pendidikan Islam Wahid Hasyim dapat di cermati pada beberapa karya beliau yang di muat di media. Dalam buku ini K.H.A. Wahid Hasyim membeberkan beberapa prinsip dalam pendidikan yaitu :
1.                  Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian.
2.                  Kesabaran.
3.                  Pendidikan adalah proses bukan serta merta.
4.                  Keberanian.
5.                  Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

3.        Orientasi Pendidikan Islam.

Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren.

Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkreatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat.

Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya. Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya(Mustafa,1999). Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil.

Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren. Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
b. Menggambarkan cara mencapai tujuan itu Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah untuk menggiatkan santri yang berahlakul karimah, takwa kepada Allah dan memiliki ketrampilan untuk hidup. Artinya dengan ilmu yang dimiliki ia mampu hidup layak di tengah masyarakat, mandiri, tidak jadi beban bagi orang lain. Santri yang tidak mempunyai ketrampilan hidup ia akan menghadapi berbagai problematika yang akan mempersempit perjalanan hidupnya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan Wahid Hasyim bersifat Teosentris ( Ketuhanan ) sekaligus Antroposentris ( kemanusiaan ). Artinya bahwa pendidikan itu harus memenuhi antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi, moralitas dan ahlak, dengan titik tekan pada kemampuan kognisi ( iman ), afeksi ( ilmu ) dan psikomotor ( amal, ahlak yang mulia ).

4.        Materi Pendidikan Islam.

Materi yang di rancang oleh Wahid Hasyim dalam pendidikan terbagi menjadi tiga : Pertama, ilmu-ilmu agama Islam seperti fiqih, tafsir, hadist dan ilmu agama lainnya. Kedua, ilmu non agama seperti ilmu jiwa, matematika, dan Ketiga, kemampuan bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda dan Bahasa Indonesia.

5.  Metode Pendidikan.

Adapun metode pendidikan yang dianut oleh K.H.A. Wahid Hasyim yaitu banyak mencontoh model pengajaran ayahnya Hasyim Asy’ari berupa penanaman kepercayaan diri yang tinggi terhadap muridnya. Ini sebagai bukti bahwa pola pemikiran Wahid Hasyim dengan ayahnya yaitu Hasyim Asy’ari banyak sekali persamaannya, atau dengan kata lain bahwa sistem dan tehnik yang diterapkan Wahid Hasyim merupakan kelanjutan dari sistem dan tehnik Hasyim Asy’ari. Adapun contohnya seperti :

a. Tanggung jawab murid
  • - Tidak menunda-nunda kesempatan dalam belajar atau tidak malas.
  • - Berhati-hati, menghindari hal-hal yang kurang bermanfaat.
  • - Memuliakan dan memperhatikan hak guru , mengikuti jejak guru.
  • - Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru.
  • - Berbicara dengan sopan dan santun dengan guru.
  • - Bila terdapat sesuatu yang kurang bisa dipahami hendaknya bertanya.
  • - Pelajari pelajaran yang telah diberikan oleh guru secara istiqomah.
  • - Pancangkan cita-cita yang tinggi.
  • - Tanamkan rasa antusias dalam belajar.
b. Tanggung jawab guru
  • - Bersikap tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak.
  • - Mengamalkan sunnah Nabi.
  • - Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih gemerlap dunia.
  • - Berahlakul karimah dan selalu menabur salam.
  • - Menghindarkan diri dari tempat-tempat yang kotor dan maksiat.
  • - Memberi nasehat dan menegur dengan baik jika ada anak yang bandel.
  • - Mendahulukan materimateri yang penting dan sesuai dengan profesi yang dimiliki.

D.      Peranan Wahid Hasyim

  1. Pendiri Nahdlotul Ulama
  2. Pada 1938 dipilih menjadi ketua Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI)
  3. Pada 1943 menggantikan ayahnya untuk memimpin Shumubu (badan urusan agama islam)
  4. Salah satu anggota BPUPKI
  5. Salah satu anggota panitia sembilan
  6. Salah satu tokoh yang ikut menandatangani Jakarta Charter pada 22 Juni 1945 di Jakarta
  7. Menjabat sebagai menteri agama pada masa kabinet Hatta dan kabinet Natsir
  8. Mendirikan beberapa sekolah dan perguruan tinggi di 14 provinsi di Indonesia

E.       Tempat yang mengabadikan nama Wahid Hasyim
  • SD Wahid Hasyim, SMP Wahid Hasyim dan SMA Wahid Hasyim,
Alamat: Jalan Mayjend Heryono No.165 Dinoyo, kec.Lowokwaru, Kota Malang
  •  SD Islam Wahid Hasyim
Alamat: Jalan Raya Pakisaji, Pakisaji, Malang
  • MTs Wahid Hasyim 01 dan MTs Wahid Hasyim 02
Alamat: Kalisongo, Dau, Malang
  • SMP Islam Wahid Hasyim
Alamat: Jalan raya Cokro Sukoanyar, Pakis, Malang.
  • Jalan Wachid Hasyim, Kauman, Klojen, Kota Malang.
Jalan KH. Wachid Hasyim, Jakarta

BAB III


A.      Kesimpulan

KH. Wahid Hasyim hidup dilingkungan yang agamis sejak kecil. Ayahnya adalah seorang ulama besar islam; pendiri Nahdlotul Ulama(NU). waktunya dihabiskan untuk belajar dipesantren. Dengan kecerdasan yang dimilikinya dan kegemarannya dalam membaca buku, Wahid berkembang menjadi sosok yang berwibawa dan bijaksana.

Pemikirannya banyak tercurahkan dalam berbagai organisasi yang diikutinya seperti MIAI, BPUPKI dan PPKI. Peranan Wahid Hasyim yang paling penting adalah keberhasilan beliau dalam menyelesaikan masalah sila ketuhanan dengan mengganti sila yang berbunyi “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya” dengan sila yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” dan tentunya dapat diterima oleh semua pihak. Namun, pemikiran beliau juga banyak diberikan pada dunia pendidikan terutama pendidikan islam.

B.       Saran

Dengan ditulisnya makalah ini, kami berharap pembaca dapat terinspirasi untuk terus mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan hal hal yang membawa manfaat. Pembaca dapat meneladani sifat dan perilaku baik para pahlawan nasional khususnya KH. A. Wahid Hasyim.

Hal yang terpenting yakni senantiasa menjaga kesatuan negara republik indonesia dengan saling menghormati dan menghargai, tidak membeda bedakan suku, agama ataupun ras dan menjaga sikap toleransi satu sama lain.


DAFTAR RUJUKAN
  • 2017. Wikipedia Bahasa Indonesia: wahid hasjim.
  • Bastian, Radis. Juli 2013. Para Pahlawan Terhebat Pengubah Indonesia: Palapa
  • Mustofa dan Abdulloh Aly. 1999. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia.
  • Khuluq, Lathiful. 2008. Fajar Kebangkitan Ulama, Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
  • http://biografinya.blogspot.co.id/2013/03/kh-wahid-hasyim.html?m=1

3 comments:

  1. terima kasih sangat membantu
    ijin copas buat tugas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan sama-sama dewa...

      Delete
  2. terima kasih
    ijin copas buat tugas

    ReplyDelete